Pandangan para tokoh pendidik pendidikan
tentang pendidikan sistem persekolahan. Dari pandangan-pandangan yang dikemukakan
manfaat yang dapat diambil adalah para tokoh pendidik tersebut akan
mengembangkan pendidik luar sekolah sebagai alternative dalam rangka peran
sertanya untuk mengembangkan masyarakat.
1. PHILIP
COMBS
Menurut Combs, 4 faktor
kelemahan pendidikan persekolahan, yakni:
a.
Pertambahan penduduk yang semakin pesat
tidak semuanya dapat ditampung oleh lembaga pendidikan formal,
b.
Sumber-sumber untuk pendidikan kurang
memadai, sehingga pendidikan formal kurang dapat merespon secara cepat dan
tepat kebutuhan dan perkembangan masyarakat,
c.
Kelambanan sistem pendidikan sekolah
untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi di luar pendidikan,
dan
d.
Kelambanan masyarakat itu sendiri dalam
memanfaatkan lembaga dan lulusan pendidikan sekolah sehingga jurang perbedaan
antara jumlah dan kemampuan para lulusan dengan lapangan kerja makin melebar.
Selain itu pendidikan formal
terutama pada jenjang menengah dan perguruan tinggi, ceeenddderuuung untuk
memupuk sikap elit sehingga para lulusannya sering kurang tertarik terhadap
pekerjaan kasar yang biasa dilakukan oleh masyarakat.
2. IVAN
IICH
Lickh
(1972) menggambarkan bahwa sekolah menopoli pendidikan lebih menitik beratkan
produknya berupa lulusan yang hanya didasarkan hasil penilaian dengan
menggunakan angka-angka dan ijazah. Sekolah telah mengaburkan makna belajar dan
mengajar, jenjang pendidikan dan tingkat kemampuan, pemilikan ijazah dan
kemampuan lulusan untuk berprestasi dan berinovasi. Proses pendidikan didominasi
oleh guru yang cendrung merampas harga diri peserta didik. Guru memerankan
perannya sebagai hakim, menanganjurkan ideologi, dokter dan peramal rahasia
kehidupan, peserta didik di masa depan.
3. PAULO
FREIRE
Freire
mengkritik dampak yang ditimbulkan oleh pendidikan sekolah terhadap masyarakat
luas.Kehadiran para lulusan sekolah menyebabkan makin tumbuhnya masyarakat yang
merasa tertekan.Ada kelompok masyarakat yang menekan dan ada yang tertekan
.Ketidak berhasilan sekolah terlihat dari kurang mampunya sekolah mengembangkan
peserta didik untuk berfikir kritis sehingga mereka kurang mampu memecahkan
maslah yang timbul.Kegiatan belajar didominasi oleh guru dan berperan sebagai
penekan (oppressor), dan peserta didik berada pada tertekan (oppressed).
Freire
menganjurkan guru berperan sebagai fasilitator dan mengajak peserta didik
berfikir terhadap dunia kehidupan. Sumbangan fikiran yang utama dalam
pendidikan adalah konsep “concientizacao” (kesadaran). Artinya warga didik
sebagai individu yang aktif dan potensial. Pendidikan harus mampu membangkitkan
kesadaran peserta didik terhadap dirinya dan lingkungannya. Program pendidikan
dirancang dan bertindak secara praksis, dimulai dari berfikir (reflection),
berbuat (action), dan berfikir kembali (further reflection). Gaya mengajar guru
dengan konsep pendidikan dengan pengajuan masalah. Hubungan guru dengan murid
dirubah dari vertical menjadi horizontal. Hubungan horizontal ini mengandung 3
prinsip, yaitu:
a.
Tidak seorangpun dapat mengajar orang
lain secara tuntas,
b.
Tidak seorangpun dapat belajar sendiri
tanpa bantuan orang lain,
c.
Belajar bersama orang lain dengan cara
berfikir dan bertindak didalam dan terhadap dunia kehidupannya.
Freire memandang pendidikan menggunakan konsep
Banking, yakni pemindahan pengetahuan guru kepada murid. Kemudian juga
mengemukakan sekolah hanya berupa penjinakan murid (domestication) dan makin
rendahnya kemampuan analisis siswa terhadap lingkungannya dan makin tingginya
tingkat ketergantungan terhadap orang lain.
PEMIKIRAN-PEMIKIRAN KEBERADAAN PLS
Pemikiran-pemikiran
para tokoh pendidik dari luar negeri tentang kelemahan pendidikan sistem
persekolahan, dengan maksud dalam rangka pengembangan sistem pendidikan luar
sekolah.
Diantara tokoh
pendidikan yang berasal dari luar negeri yang dikemukakan oleh Sudjana (1991)
adalah sebagai berikut.
1. LYRA
SRINIVASAN
Kondisi warga belajar
di negara berkembang, cenderung tidak memiliki motivasi belajar yang tinggi,
merasa rendah diri, cepat patah semangat, merasa tidak berdaya terhadap tekanan
yang datang dari lingkungannya, sikap hormat yang berlebihan pada guru yang
dianggap tokoh bijaksana, dan tidak mempercayai adanya nilai praktis pendidikan
bagi kepentingan kehidupan mereka sehari-hari. Ia menganjurkan 3 macam
pembelajaran dalam mengatasi kondisi tersebut:
a.
Pendekatan yang berpusat pada masalah
b.
Pendekatan proyektif
c.
Pendekatan aktualisasi diri
Ketiga pendekatan ini
dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pendidikan, yaitu:
a.
Kebutuhan untuk memperkuat kemampuan WB
dalam upaya memecahkan masalah,
b.
Kebutuhan untuk melengkapi WB dengan
berbagai keterampilan untuk menghadapi lingkungan secara lebih baik,
c.
Kebutuhan untuk mengembangkan potensi WB
dan memperkuat kesadaran diri secara positif.
2. SUZANNE
KINDERVATTER
Konsepnya terkenal
dengan Empowering Procces, yakni proses pemberian kekuatan atau daya adalah setiap upaya pendidikan yang
bertujuan membangkitkan kesadaran, pengertian, kepekaan WB terhadap perkembangan
sosial, ekonomi, dan politik sehingga pada akhirnya ia memiliki kemampuan untuk
memperbaiki dan meningkatkan kedudukannya dalam masyarakat. Ada 8 kekuatan
dalam pembelajaran, yaitu:
a.
Belajar dilakukan dalam kelompok kecil,
b.
Pemberian tanggungjawab yang lebih besar
kepada WB,
c.
Kepemimpinan kelompok,
d.
Sumber belajar bertindak selaku
fasilitator,
e.
Proses kegiatan berlangsung secara
demokratis,
f.
Adanya kesatuan pandangan dan langkah
dalam mencapai tujuan,
g.
Menggunakan metode dan teknik
pembelajaran yang dapat menimbulkan percaya diri pada WB, dan
h.
Bertujuan akhir untuk meningkatkan
status sosial, ekonomi, dan politik WB dalam masyarakat.
3. EVARETT
RAIMER
Reimer terkenal dengan
karyanya School is Deat (Sekolah sudah Mati). Artinya, sekolah tidak lagi
memberikan kebebasan berkembang pada peserta didik. Segalanya guru yang
mengatur, dan murid orang yang diatur. Sekolah tidak lagi menjalankan
fungsinya, yakni memberikan kesempatan berkembang pada peserta didik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar