Selasa, 10 Januari 2012

PEMIKIRAN-PEMIKIRAN KEBERADAAN PLS

Pandangan para tokoh pendidik pendidikan tentang pendidikan sistem persekolahan. Dari pandangan-pandangan yang dikemukakan manfaat yang dapat diambil adalah para tokoh pendidik tersebut akan mengembangkan pendidik luar sekolah sebagai alternative dalam rangka peran sertanya untuk mengembangkan masyarakat.

1.      PHILIP COMBS
Menurut Combs, 4 faktor kelemahan pendidikan persekolahan, yakni:
a.       Pertambahan penduduk yang semakin pesat tidak semuanya dapat ditampung oleh lembaga pendidikan formal,
b.      Sumber-sumber untuk pendidikan kurang memadai, sehingga pendidikan formal kurang dapat merespon secara cepat dan tepat kebutuhan dan perkembangan masyarakat,
c.       Kelambanan sistem pendidikan sekolah untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi di luar pendidikan, dan
d.      Kelambanan masyarakat itu sendiri dalam memanfaatkan lembaga dan lulusan pendidikan sekolah sehingga jurang perbedaan antara jumlah dan kemampuan para lulusan dengan lapangan kerja makin   melebar.
Selain itu pendidikan formal terutama pada jenjang menengah dan perguruan tinggi, ceeenddderuuung untuk memupuk sikap elit sehingga para lulusannya sering kurang tertarik terhadap pekerjaan kasar yang biasa dilakukan oleh masyarakat.

2.      IVAN IICH
Lickh (1972) menggambarkan bahwa sekolah menopoli pendidikan lebih menitik beratkan produknya berupa lulusan yang hanya didasarkan hasil penilaian dengan menggunakan angka-angka dan ijazah. Sekolah telah mengaburkan makna belajar dan mengajar, jenjang pendidikan dan tingkat kemampuan, pemilikan ijazah dan kemampuan lulusan untuk berprestasi dan berinovasi. Proses pendidikan didominasi oleh guru yang cendrung merampas harga diri peserta didik. Guru memerankan perannya sebagai hakim, menanganjurkan ideologi, dokter dan peramal rahasia kehidupan, peserta didik di masa depan.

3.      PAULO FREIRE
Freire mengkritik dampak yang ditimbulkan oleh pendidikan sekolah terhadap masyarakat luas.Kehadiran para lulusan sekolah menyebabkan makin tumbuhnya masyarakat yang merasa tertekan.Ada kelompok masyarakat yang menekan dan ada yang tertekan .Ketidak berhasilan sekolah terlihat dari kurang mampunya sekolah mengembangkan peserta didik untuk berfikir kritis sehingga mereka kurang mampu memecahkan maslah yang timbul.Kegiatan belajar didominasi oleh guru dan berperan sebagai penekan (oppressor), dan peserta didik berada pada tertekan (oppressed).
Freire menganjurkan guru berperan sebagai fasilitator dan mengajak peserta didik berfikir terhadap dunia kehidupan. Sumbangan fikiran yang utama dalam pendidikan adalah konsep “concientizacao” (kesadaran). Artinya warga didik sebagai individu yang aktif dan potensial. Pendidikan harus mampu membangkitkan kesadaran peserta didik terhadap dirinya dan lingkungannya. Program pendidikan dirancang dan bertindak secara praksis, dimulai dari berfikir (reflection), berbuat (action), dan berfikir kembali (further reflection). Gaya mengajar guru dengan konsep pendidikan dengan pengajuan masalah. Hubungan guru dengan murid dirubah dari vertical menjadi horizontal. Hubungan horizontal ini mengandung 3 prinsip, yaitu:
a.       Tidak seorangpun dapat mengajar orang lain secara tuntas,
b.      Tidak seorangpun dapat belajar sendiri tanpa bantuan orang lain,
c.       Belajar bersama orang lain dengan cara berfikir dan bertindak didalam dan terhadap dunia kehidupannya.
Freire memandang pendidikan menggunakan konsep Banking, yakni pemindahan pengetahuan guru kepada murid. Kemudian juga mengemukakan sekolah hanya berupa penjinakan murid (domestication) dan makin rendahnya kemampuan analisis siswa terhadap lingkungannya dan makin tingginya tingkat ketergantungan terhadap orang lain.



PEMIKIRAN-PEMIKIRAN KEBERADAAN PLS

Pemikiran-pemikiran para tokoh pendidik dari luar negeri tentang kelemahan pendidikan sistem persekolahan, dengan maksud dalam rangka pengembangan sistem pendidikan luar sekolah.
Diantara tokoh pendidikan yang berasal dari luar negeri yang dikemukakan oleh Sudjana (1991) adalah sebagai berikut.

1.      LYRA SRINIVASAN
Kondisi warga belajar di negara berkembang, cenderung tidak memiliki motivasi belajar yang tinggi, merasa rendah diri, cepat patah semangat, merasa tidak berdaya terhadap tekanan yang datang dari lingkungannya, sikap hormat yang berlebihan pada guru yang dianggap tokoh bijaksana, dan tidak mempercayai adanya nilai praktis pendidikan bagi kepentingan kehidupan mereka sehari-hari. Ia menganjurkan 3 macam pembelajaran dalam mengatasi kondisi tersebut:
a.       Pendekatan yang berpusat pada masalah
b.      Pendekatan proyektif
c.       Pendekatan aktualisasi diri
Ketiga pendekatan ini dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pendidikan, yaitu:
a.       Kebutuhan untuk memperkuat kemampuan WB dalam upaya memecahkan masalah,
b.      Kebutuhan untuk melengkapi WB dengan berbagai keterampilan untuk menghadapi lingkungan secara lebih baik,
c.       Kebutuhan untuk mengembangkan potensi WB dan memperkuat kesadaran diri secara positif.

2.      SUZANNE KINDERVATTER
Konsepnya terkenal dengan Empowering Procces, yakni proses pemberian kekuatan  atau daya adalah setiap upaya pendidikan yang bertujuan membangkitkan kesadaran, pengertian, kepekaan WB terhadap perkembangan sosial, ekonomi, dan politik sehingga pada akhirnya ia memiliki kemampuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kedudukannya dalam masyarakat. Ada 8 kekuatan dalam pembelajaran, yaitu:
a.       Belajar dilakukan dalam kelompok kecil,
b.      Pemberian tanggungjawab yang lebih besar kepada WB,
c.       Kepemimpinan kelompok,
d.      Sumber belajar bertindak selaku fasilitator,
e.       Proses kegiatan berlangsung secara demokratis,
f.       Adanya kesatuan pandangan dan langkah dalam mencapai tujuan,
g.      Menggunakan metode dan teknik pembelajaran yang dapat menimbulkan percaya diri pada WB, dan
h.      Bertujuan akhir untuk meningkatkan status sosial, ekonomi, dan politik WB dalam masyarakat.

3.      EVARETT RAIMER
Reimer terkenal dengan karyanya School is Deat (Sekolah sudah Mati). Artinya, sekolah tidak lagi memberikan kebebasan berkembang pada peserta didik. Segalanya guru yang mengatur, dan murid orang yang diatur. Sekolah tidak lagi menjalankan fungsinya, yakni memberikan kesempatan berkembang pada peserta didik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar